Lintasoheo.com | Kendari – Situasi kelistrikan di Kabupaten Konawe Utara (Konut) yang tak kunjung stabil memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh pemuda. Alpian Anas dan Hendrik, dua aktivis yang vokal menyuarakan hak masyarakat Konut, menegaskan bahwa pihak PLN harus bertanggung jawab penuh atas pemadan dank ketidak stabilan listrik di Konawe Utara.
Dalam pernyataan resminya, Alpian Anas menegaskan bahwa kesabaran masyarakat telah habis. Ia memberikan peringatan terakhir kepada manajemen PLN untuk segera memperbaiki layanan di Konawe Utara agar setara dengan kabupaten lainnya.
“Listrik di Konawe Utara hari ini harus normal. Jika tidak, maka jangan salahkan kami. Dengan tegas saya nyatakan, kami akan membakar kantor PLN Kendari dan saya siap menanggung semua risikonya,” tegas Alpian Anas dengan nada tinggi.
Di tempat yang sama, Hendrik turut memberikan penekanan serupa.
Ia menyatakan bahwa pemadaman berkepanjangan di Konut telah mencederai martabat masyarakat dan menghambat segala sektor kehidupan. Hendrik mengancam akan memobilisasi massa dalam jumlah besar untuk mengepung dan menduduki kantor PLN Cabang Kendari.
“Jika listrik tidak normal, kantor PLN Cabang Kendari akan kami duduki. Kami akan mobilisasi massa lebih banyak lagi. Kami malu untuk pulang ke Konawe Utara jika aspirasi ini tidak diamini. Bagi kami, ini adalah pertaruhan harga diri,” ujar Hendrik.
Hendrik menambahkan bahwa dirinya berkomitmen untuk tetap bertahan di Kendari dan tidak akan menginjakkan kaki kembali di Bumi Oheo sebelum ada kepastian nyata mengenai normalisasi listrik bagi warga Konut.
Aksi protes keras ini merupakan buntut dari kekecewaan mendalam atas kinerja PLN yang dinilai lamban dalam menangani krisis energi di Konawe Utara. Hingga berita ini dirilis, gelombang desakan agar PLN segera bertindak terus menguat, seiring dengan ancaman eskalasi massa yang lebih besar ke kantor pusat PLN di Kendari.
